Pembagian Jabatan Kekuasaan Di Masing-Masing Wilayah Dinasti Ayyubiyah Menggunakan Sistem

admin

Pembagian Jabatan Kekuasaan Di Masing-Masing Wilayah Dinasti Ayyubiyah Menggunakan Sistem

Pembagian Jabatan Kekuasaan di Masing-Masing Wilayah Dinasti Ayyubiyah Menggunakan Sistem Iqta

Dinasti Ayyubiyah adalah sebuah dinasti Muslim Sunni yang memerintah Mesir, Suriah, dan Palestina dari tahun 1171 hingga 1250. Dinasti ini didirikan oleh Salahuddin al-Ayyubi, seorang pemimpin militer Kurdi yang mengalahkan tentara Salib dalam Pertempuran Hattin pada tahun 1187.

Setelah kemenangan dalam Pertempuran Hattin, Salahuddin membagi wilayah kekuasaannya menjadi beberapa wilayah, dan masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang gubernur atau atabeg. Para gubernur ini bertanggung jawab atas administrasi, pertahanan, dan perpajakan di wilayah mereka masing-masing.

Sistem pembagian wilayah kekuasaan ini dikenal dengan nama sistem iqta. Iqta adalah sebuah sistem di mana tanah diberikan kepada seorang pemimpin militer sebagai imbalan atas pengabdiannya. Pemimpin militer ini kemudian bertanggung jawab untuk mengumpulkan pajak dari wilayah tersebut dan menggunakan pajak tersebut untuk membiayai pasukannya.

Sistem iqta memungkinkan Dinasti Ayyubiyah untuk mengendalikan wilayah yang luas dengan pasukan yang relatif kecil. Namun, sistem ini juga memiliki beberapa kelemahan. Salah satu kelemahannya adalah sistem iqta sering menyebabkan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu, sistem iqta juga menyebabkan terjadinya fragmentasi politik, karena para gubernur seringkali lebih loyal kepada pemimpin militer yang memberikan mereka iqta daripada kepada pemerintah pusat.

Pada akhir abad ke-13, Dinasti Ayyubiyah digantikan oleh Dinasti Mamluk. Dinasti Mamluk adalah sebuah dinasti militer yang didirikan oleh para budak militer yang pernah bertugas di istana Ayyubiyah. Dinasti Mamluk memerintah Mesir, Suriah, dan Palestina hingga tahun 1517, ketika wilayah tersebut ditaklukkan oleh Kesultanan Utsmaniyah.

Berikut adalah pembagian jabatan kekuasaan di masing-masing wilayah Dinasti Ayyubiyah menggunakan sistem iqta:

  • Mesir:
    • Gubernur: Salahuddin al-Ayyubi (1171-1193)
    • Wazir: Qadi al-Fadil (1179-1199)
    • Panglima Angkatan Darat: Al-Malik al-Adil (1193-1218)
  • Suriah:
    • Gubernur: Al-Malik al-Afdal (1186-1196)
    • Wazir: Ibn al-Qaisarani (1186-1196)
    • Panglima Angkatan Darat: Al-Malik al-Aziz (1196-1218)
  • Palestina:
    • Gubernur: Al-Malik al-Kamil (1198-1238)
    • Wazir: Al-Afdal ibn Salahuddin (1198-1225)
    • Panglima Angkatan Darat: Al-Malik al-Mu’azzam (1225-1227)

Sistem iqta memungkinkan Dinasti Ayyubiyah untuk mengendalikan wilayah yang luas dengan pasukan yang relatif kecil. Namun, sistem ini memiliki beberapa kelemahan yang menyebabkan terjadinya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan fragmentasi politik.

Tags

Related Post

Leave a Comment